Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam Proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar

ipa-sd

Pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945 bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ungkapan mencerdaskan tidak hanya terbatas pada penguasaan ilmu pengetahuan akan tetapi juga pada hal-hal lain sebagaimana yang tertuang pada pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, ke­pribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha se­seorang, yang berarti bahwa pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran da­lam mewujudkan dan mengembangkan berbagai potensi yang ada sehingga dapat memiliki kekuatan spritual keagamaan, mampu mengendalikan diri, memiliki ke­pribadian yang baik, memiliki kecerdasan, mampu berakhlak mulia serta dapat me­miliki keterampilan yang diperlukan dirinya untuk kehidupan di tenggah ma­sya­rakat.

Pengembangan potensi, kekuatan, spritual, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab yang di­maksudkan diwujudkan melalui pendidikan. Pendidikanlah yang pada dasarnya membawa kehidupan manusia sesuai dengan kehendak Sang Maha Pencipta Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan fitrah kehidupan manusia itu sendiri. Kehidupan demikian adalah kehidupan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, yaitu pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010:4).

Persoalan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa saat sekarang ini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek ke­hidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Persoalan yang muncul dimasyarakat seperti korup­si, kekerasan, kejahatan sosial, pengrusakan, perkelahian massa antar pe­serta didik, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif dan sebagainya menjadi topik hangat dimedia masa, seminar, dan berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti peraturan undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010:1).

Pergeseran nilai-nilai tersebut jika dibiarkan akan membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan pendidikan dan generasi muda sebagai penerus harapan bangsa, oleh karenanya, Balitbang Depdiknas (2010) menyebutkan pada tanggal 11 Mei 2010 yang lalu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi mencanangkan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sebagai suatu Gerakan Nasional. Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan dari serangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dengan demikian pencanangan harus men­jadi semangat bagi semua pihak dalam mendidik peserta didik agar menjadi gene­rasi yang tangguh, patriotis, dan memiliki jati diri yang kuat. Sebagai tindak lanjut dari pencanangan tersebut, Prof. Muhamad Nuh selaku Menteri Pendidikan Nasio­nal dalam setiap kesempatan selalu menghimbau semua pihak agar mendukung kebijakan ini.

Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pen­didikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadikan rujukan konseptual dan operasional sebagai upaya untuk me­ningkatkan kesesuaian dan mutu Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, pe­ngem­bangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial kultural tersebut dikelompokkan dalam: Olah hati (Spritual and emotional development), Olah pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and Kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity Development). Pengembangan dan implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut (Akhmadsudrajat, 2010:2).

Pendidikan budaya dan karakter bangsa dicanangkan juga berdasarkan masukan dari masyarakat, orang tua, dan pemangku kepentingan dalam bidang pen­didikan. Upaya yang telah dilakukan pemerintah pada saat sekarang tidak saja se­buah dukungan, akan tetapi juga unsur yang berperan aktif dalam pengem­bangan proses pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendapat yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan, para pemerhati pen­didikan dan anggota masyarakat lainnya diberbagai media massa, seminar, dan saresehan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada awal tahun 2010 menggambarkan adanya kebutuhan masyarakat yang kuat akan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Apalagi jika dikaji, bahwa dalam kehidupan itu, secara imperative, adalah sebagai kualitas manusia Indonesia yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) dianggap sebagai alternatif yang ba­nyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi masalah budaya dan karater bangsa dibicarakan di atas. Pendidikan di SD dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan di SD secara formal merupakan awal membangun generasi baru bangsa yang lebih baik sejak sedini mungkin. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan di SD diharapkan dapat meng­ambang­kan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat mem­perkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Hasil dari pendidikan di SD tidak akan terlihat dampaknya dalam waktu yang segera, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama. Untuk mengembangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa dibutuhkan kurikulum yang mendukung karena kurikulum adalah jantungnya pendidikan.

Kurikulum sebagai jantung pendidikan sudah seharusnya memberikan perhatian yang besar pada pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum tahun 1994 berbasis materi artinya muatan kurikulum lebih berdasarkan kepada ranah kognitif, sedangkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan situasi dan kondisi daerah serta lebih menekankan kepada pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara psikomotor, dan akhirnya ke pengalaman nilai secara nyata afektif.

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dapat dintegrasikan dalam setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma-norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikait­kan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran Pen­didikan Budaya dan Karakter Bangsa tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Salah satu struktur kurikulum pada jenjang Pen­didikan Dasar adalah mata pelajaran Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Pelaksanaan pendidikan dan budaya karakter bangsa dapat dilakukan dalam proses pembelajaran IPA, karena mata pelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengatahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, akan tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pen­didikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mem­pelajari diri sendiri dan alam sekitar serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2008:147).

Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik baik itu tingkat dasar maupun tingkat lanjutan secara optimal. Usaha sadar itu tidak terlepas dari lingkungan peserta didik SD dimana dia berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik SD hidup dalam ling­kungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercabut dari akar budayanya. Ketika hal itu terjadi, mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya. Se­lain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah peserta didik men­jadi orang yang tidak menyukai budayanya.

Budaya diartikan sebagai keseluruhan system berpikir, nilai, moral, nor­ma, dan keyakinan manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Ketika kehidupan manusia terus berkembangan, yang berkembang sesungguhnya adalah system sosial, sistem ekonomi, sistem keper­cayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut kearah yang sesuai untuk kehidupan masa kin dan masa men­datang.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain me­numbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pe­ngem­bangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter seseorang. Akan tetapi karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya da­pat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkjutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak terlepas dari lingkungan, sosial, dan budaya bangsa di mana peserta didik berada.

Berdasarkan pengertian pendidikan, budaya, karakter bangsa di atas, maka Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sesuai dengan sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter diri­nya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Ke­men­trian Pendidikan Nasional, 2010:4).

Atas dasar pemikiran di atas, pengembangan Pendidikan Budaya dan Karak­ter Bangsa sangat strategis bagi kerberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu hendaknya dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, metode belajar dan pembelajaran yang efektif.

Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam Pembelajaran IPA di SD

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan-pemecahan masalah yang dapat diidentifikasikan. Pe­nerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Ditingkat SD diharapkan ada penekanan pembelajaran Saling­temas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang, dan membuat suatu karya melalui pene­rapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana serta me­ngandung nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karater Bangsa. Tujuan pem­bel­ajaran IPA agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Mem­peroleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan ke­beradaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaanNya, 2) Mengembangkan pe­nge­tahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat di­terapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, 4) mengembangkan keterampilan pro­ses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat ke­putusan, 5) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan 7) memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

Nilai-nilai Pendidikan dan Karakter Bangsa perlu dicontohkan dalam pembelajaran IPA dan hendaknya diinternalisasikan kepada peserta didik sejak usia dini. Keberhasilan pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dapat diketahui melalui pencapaian indikator dalam pembelajaran IPA peserta didik sebagaimana tercantum di bawah ini:

  1. Jenjang kelas 1 sampai kelas 3 SD pencapaian indikatornya sebagai berikut: peduli kesehatan, nilai intelektual, religius, empati, mandiri, disiplin, tole­ransi, hati-hati, bersahabat/komunikasi, peduli sosial, tanggung jawab, pe­duli lingkungan, nilai susila, rasa ingin tahu, senanng membaca, estetika, teliti, menghargai prestasi, pantang menyerah, terbuka, jujur, cinta damai, objektif, hemat, dan percaya diri.
  2. Jenjang kelas 4 sampai kelas 6 SD pencapaian indikatornya sebagai berikut: peduli kesehatan, nilai intelektual, religius, empati, mandiri, disiplin, tole­ransi, hati-hati, bersahabat/komunikasi, peduli sosial, tanggung jawab, pe­duli lingkungan, nilai susila, kerja keras, rasa ingin tahu, senang membaca, estetika, kreatif, teliti, skeptis, menghargai prestasi, pantang menyerah, ter­buka, jujur, cinta damai, objektif, hemat, dan percaya diri.

Di bawah ini akan penulis contohkan pencapai indikator Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam pembelajaran IPA di SD

Contoh 1: Contoh pembelajaran IPA di kelas IV SD dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri

Kompetensi Dasar

5.1 Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet)

Indikator

5.1.1 menjelaskan bahwa logam besi dapat bersifat magnet.

5.1.1 melakukan percobaan dalam kelompok belajar.

5.1.2 membuat magnet secara gosokan.

5.1.3 menjelaskan cara membuat magnet secara gosokan dengan benar

5.1.4 Menjelaskan pesawat sederhana yang dapat membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat.

Langkah Pembelajaran

  1. Pendahuluan
    • Menyiapkan kondisi kelas (fase 1) .
    • Berdoa dan mengabsen siswa .
    • Appersepsi dengan melakukan tanya jawab tentang pelajaran sebe ­ lumnya yaitu tentang cara membuat magnet dengan cara induksi .
    • Menyampaikan tujuan pembelajaran
  2. Inti
    • Tanya jawab untuk merumuskan masalah, yaitu:
      Kenapa logam besi dapat bersifat seperti magnet sehingga dapat menarik sebuk besi yang ada disekitarnya? (fase 2)
    • Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan mengguna­kan bahasa yang santun dengan rasa percaya diri yang tinggi ber­dasar­kan pengetahuannya untuk merumuskan hipotesis (fase 3)
    • Membagikan LKS serta alat dan bahan untuk melakukan percobaan dan membimbing siswa untuk bekerja sama dengan hati-hati dan pe­nuh rasa tanggung jawab.
    • Memperhatikan penjelasan guru tentang langkah-langkah kerja yang akan dilakukan dalam kelompok dengan bekerjasama, memiliki rasa ingin tahu, dan membaca bacaan dengan senang
    • Siswa melakukan percobaan sesuai dengan langkah-langkah yang ada dalam LKS (fase 4) dengan bekerjasama, penuh teliti, kreatif, bekerja keras, dan rasa tanggungjawab.
    • Perwakilan kelompok melaporkan hasil percobaan kelompok ke depan kelas dan kelompok lain menggapinya dengan menggunakan dengan bahasa yang santun dan sopan.
    • Menarik kesimpulan yang tepat tentang percobaan yang telah dilaku ­ kan dan menuliskan laporan secara hati-hati dan teliti (fase 5)
  3. Penutup
    • Siswa di bawah bimbingan guru menyimpulkan pelajaran
    • Memberikan tindak lanjut

Contoh 2: Pembelajaran IPA di kelas V/2 dengan menggunakan Metode Eksperimen

Kompetensi Dasar :

5.2 Menjelaskan pesawat sederhana yang dapat membuat pekerjaaan lebih mudah dan lebih cepat

Indikator

5.2.1 Menjelaskan pengertian pesawat sederhana

5.2.2 Mengindentifikasi jenis-jenis pesawat sederhana

5.2.3 Menyebutkan contoh-contoh kegiatan sehari-hari yang menggunakan prinsip kerja tuas/pengungkit golonngan 1

5.2.4 Menjelaskan ciri-ciri pengungkit golongan 1

Kegiatan Awal

  1. Pengkondisian kelas (menyiapkan peralatan pembelajaran, mengatur tempat duduk siswa, absensi, dan doa).
  2. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  3. Membuka skemata siswa dengan cara meminta 2 orang siswa ke depan kelas, yaitu kedua siswa sama-sama diberi minuman botol. Siswa pertama diberi alat pembuka botol dan siswa yang kedua diminta membuka botol tanpa pembuka botol.
  4. Siswa dan guru tanya jawab tentang demontrasi yang terjadi di depan kelas. Siswa diingatkan untuk bergiliran dalam bertanya dan menyampaikan pendapat, menyumbangkan ide, namun menjadi pen­dengar yang baik ketika temannya berbicara.

Kegiatan Inti

  • Siswa dan guru tanya jawab dengan percaya diri tentang tujuan eks­perimen yang akan dilakukan, yaitu tentang pesawat sederhana jenis tuas.pengungkit golongan 1.

Menjelaskan tujuan eksperimen

  • Menyebutkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan eksperimen dengan memperlihatkan alat dan bahan tersebut.

Menyebutkan dan bahan yang dibutuhkan untuk eksperimen

  1. Menyebutkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan eksperimen dengan memperlihatkan alat dan bahan tersebut.
  2. Guru membagikan LKS serta alat dan bahan yang digunakan untuk eksperimen pada kelompok masing-masing.

Menjelaskan Tahap-tahap kegiatan Eksperimen

  1. Siswa membaca dengan senang hati tahap-tahap kegiatan eksperimen yang terdapat dalam lembar LKS dengan teliti dan hati-hati.
  2. Siswa memahami tentang tahap-tahap kegiatan eksperimen dengan hati-hati sesuai dengan eksperimen yang dilakukan, yaitu tentang tuas/peng­ungkit golongan I didorong untuk bekerjasama dan gigih terus mencoba.
  3. Siswa dalam kelompok melakukan percobaan sesuai dengan langkah kerja dengan hati-hati dan penuh rasa disiplin serta membangun rasa kerjasama yang terdapat dalam LKS.
  4. Siswa diawasi dan dibimbing oleh guru dalam melakukan percobaan.

Mengamati percobaan dan Mencatat hasil Percobaan sesuai LKS

  1. Siswa mengamati hasil percobaan yang dilakukan dengan tekun dan penuh semangat.
  2. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan dalam kelompoknya secara bergantian dengan tertip dan teratur.
  3. Siswa mengisi lembar hasil pengamatan sesuai dengan hasil percobaan yang telah dilakukan dengan teliti.
  4. Menyimpulkan hasil percobaan
  5. Siswa menyimpulkan hasil pengamatan dalam kelompoknya
  6. Salah seorang wakil kelompok melaporkan hasil pengamatan per­cobaan mereka ke depan kelas, sementara kelompok lain menanggapi hasil laporan diskusi kelompok yang tampil.

Kegiatan Akhir

  1. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan pembelajaran.
  2. Memberikan ringkasan tentang pembelajaran yang telah diberikan.
  3. Guru memberikan penilaian dan perbaikan terhadap tugas siswa.
  4. Pemberian tindak lanjut.

Simpulan

Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) dianggap sebagai alternatif yang ber­sifat preventif, karena pendidikan di SD secara formal merupakan awal mem­bangun generasi baru bangsa yang lebih baik sejak sedini mungkin. Sebagai alter­natif yang bersifat preventif, pendidikan di SD diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda. Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dapat di­inte­grasikan dalam setiap mata pelajaran. Pelaksanaan pendidikan dan budaya karak­ter bangsa dapat dilakukan dalam proses pembelajaran IPA, karena mata pelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, se­hingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, akan tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Dalam proses penemuan dalam pembelajaran IPA dapat di­ketahui pencapaian indikator Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sebagai berikut: peduli kesehatan, nilai intelektual, religius, empati, man­diri, disiplin, toleransi, hati-hati, bersahabat/komunikasi, peduli sosial, tanggung jawab, peduli lingkungan, nilai susila, kerja keras, rasa ingin tahu, senang mem­baca, estetika, kreatif, teliti, skeptis, menghargai prestasi, pantang menyerah, ter­buka, jujur, cinta damai, objektif, hemat, dan percaya diri.

Daftar Rujukan

  • Akhmadsudrajat. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. (On line). Diakses tanggal 5 Okterber 2010. Http://akhmadsudrajat.wordpress.com
  • Amir, M.S. 2003. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minangkabau. Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya.
  • Depdiknas. 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Standar Isi. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Dasar dan Menenggah.
  • Ermaleli, dkk. 2004. Budaya Alam Minangkabau untuk Kelas 3 SD. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Balitbang Depdiknas. 2010. Presiden Canangkan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter. (Online). Diakses tanggal 5 Oktober 2010. http://www.balitbang, depdiknas.go.id.
  • Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasioanal Badan Pene­litian dan Pendidikan Pengembangan Pusat Kurikulum.
  • Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Pendidikan Kewira­usahaan. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasioanal Badan Penelitian dan Pendidikan Pengembangan Pusat Kurikulum.
  • Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasioanal Badan Pene­litian dan Pendidikan Pengembangan Pusat Kurikulum.
  • Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasioanal Badan Penelitian dan Pendidikan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Oleh: Muhammadi